Dampak Hyperparenting Pada Si Kecil

Pola-pengasuhan-hyperparenting-bisa-berdampak-negatif-bagi-anak
04
Jul

Dampak Hyperparenting

Orangtua tentu menginginkan anak-anak yang mereka lahirkan ke dunia dapat tumbuh menjadi anak-anak yang sukses, cerdas dan menjadi pribadi yang menyenangkan untuk lingkungannya. Mereka ingin bahwa anak-anak mereka dapat hidup bahagia, memiliki karir yang bagus, berperilaku menyenangkan dan lain sebagainya.

Sayangnya, tidak semua orangtua memahami bahwa masing-masing anak memiliki kepribadian, karakter dan bahkan cita-cita yang berbeda. Sehingga, tidak bisa jika seorang orangtua memaksakan kehendaknya dan menerapkan pola pengasuhan yang sama rata pada semua anak dengan mengganggap bahwa pola pengasuhan sebelumnya telah berhasil mereka terapkan untuk anak-anaknya.

Seringkali kita sebagai orangtua memkasakan kehendak dan keinginan kita pada anak-anak tanpa mempertimbangkan kemampuan, kesiapan dan perasaan anak-anak dengan dalih ingin jika anak-anak kita mendapatkan hal yang terbaik untuk kehidupannya. Inilah yang terjadi pada orangtua yang menerapkan pola asuh hyper parenting.

Apa Itu Pola Asuh Hyper-Parenting?

Hyper-parenting merupakan pola pengasuhan yang dilakukan dengan kontrol berlebihan dari orangtua. Dalam pola pengasuhan ini, orangtua memiliki derajat kontrol yang mutlak dan tinggi terhadap anak-anaknya. Pada pengasuhan ini, orangtua berusaha keras untuk mencermati apapun yang dilakukan oleh anak-anak dan segala hal yang diberikan kepada anak-anak mereka. Tentunya hal ini dilakukan dalam rangka untuk mengatisipasi berbagai permasalahan yang mungkin dapat terjadi baik saat ini maupun dimasa yang akan datang.

Adapun tujuan dan maksud orangtua yang cederung menerapkan pola pengasuhan seperti ini didasari oleh rasa sayang dan cinta kasih terhadap anak-anaknya. Selain itu, besarnya keinginan orangtua agar sang anak bisa menjadi generasi yang lebih baik, terutama jika mereka bandingkan dengan keadaan dirinya terdahulu menjadi hal yang mendorong mereka untuk cenderung lebih protektif terhadap anak-anaknya. Hanya saja, dalam pola pengasuhan seperti ini, orangtua memiliki tingkat kecemasan yang terlalu tinggi, sehingga cenderung mereka lebih mengejar hal tersebut dengan alasan yang emosional.

Umunya, pola pengasuhan hyper-parenting dipengaruhi karena orangtua mereka merasa tidak puas dengan pola pengasuhan yang mereka dapatkan sewaktu masih kecil. Bisa jadi orangtua merasa tidak puas dengan pencapaian karir atau kehidupannya secara keseluruhan. Akibatnya, hal ini melahirkan semua obesesi ditambah dengan ketidakberuntungan itu yang dibebankan pada anak-anaknya saat ini.

Dengan menerapkan pola pendidikan seperti ini orangtua merasa anak-anak mereka bisa mendapatkan apa yag sebelumnya tidak mereka dapatkan. Akan tetapi, belum tentu hal ini akan sesuai dengan kebutuhan, minat, bakat atau bahan keinginan si buah hati.

Pada orangtua yang menerapkan hal ini, anak-anak akan cenderung merasa lebih cemas dan khawatir. Betapa tidak, pola pengasuhan orangtua yang terlalu mengatur dan memaksakan kehendaknya akan membuat anak-anak tidak percaya diri.

Sebenarnya, wajar saja jika orangtua berharap anak-anak mereka dapat mewujudkan keinginannya. Akan tetapi, kita pun perlu tahu bahwa memaksakan kehendak bukanlah jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah. Ada dampak fatal yang akan ditimbulkan pada anak-anak, yakni dapat menghambat pada pertumuhannya, selain itu juga dapat meimbulkan kemarahan yang berlebihan dikarenakan anak-anak merasa tidak memiliki kebebasannya.

Selain beberapa hal diatas, ada pula beberapa hal dan dampak buruk lain yang bisa ditimbulkan pada orangtua yang menerapkan pola pengasuhan hyper parenting. Apa sajakah hal tersebut? Mari kita simak berikut ini.

1. Membuat Anak Mudah Cemas

Dengan menerapkan pola pengasuhan ini, hidup anak akan cenderung menjadi tidak tenang. Betapa tidak, pengaturan yang berlebihan dan pola mendidik anak dengan terus-terusan mengikut sertakan orangtua didalamya akan serta merta membuat anak cemas. Terlebih lagi, anak-anak cenderung seringkali merasa kurang percaya diri atau kurang bebas mengekspresikan dirinya sewaktu orangtua mereka bertindak seolah menyatpaminya.

Untuk itulah, memang wajar memberikan dukungan pada anak dengan terus berada disamping mereka. Akan tetapi, tidaklah bijak jika anda memaksakan kehendak anda pada anak-anak. Biarkan anak memilih apa yang mereka inginkan. Dengan begini anak-anak akan dapat menjalaninya dengan senang hati.

2. Emosi Anak yang Mudah Meledak

Pengaplikasian pola pengasuhan hyper-parenting umumnya lebih cenderung membuat orangtua seringkali mendikte anak dan memberikan banyak perintah dan meminta mereka untuk dapat mematuhi keinginan orangtuanya. Hal inilah yang pada akhirnya, membuat anak menjadi cenderung kaku.

Selain itu, banyak tekanan yang akan mereka dapatkan dari orangtuanya, terutama ketika perintah atau keinginan orangtua tidak sesuai dengan apa yang mereka sukai. Hal ini yang pada akhirnya akan membuat emosi anak cepat meledak.

3. Anak Menjadi Kurang Aktif

Kebiasaan yang selalu “diarahkan” dan “didikte” membuat anak-anak hanya akan terbatasi. Kebiasaan oragtua yang memberikan perintah atau menekankan kehendaknya pada anak, membuat mereka terus-terusan terbatas pada apa yang anda harapkan. Tanpa anda sadari, hal inilah yang membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang kreatif. Berbeda dengan anak-anak yang diberikan pola pengasuhan yang lebih baik, seperti halnya anak-anak yang diasuh dalam pengasuhan demokrasi. Anak-anak dalam hal ini akan cenderung lebih bebas dan lebih ceria, karena diberikan ruang untuk berekspresi namun dengan tidak menghilangkan pengawasan dari orangtua. Anak-anak yang seperti ini tentunya menjadi lebih kreatif dan cerdas.

4. Depresi Pada Anak

Tidak menutup kemungkinan, anak-anak yang seringkali disibukkan dengan berbagai kegiatan dan tugas yang diberikan oleh orangtuanya dalam rangka “me-manage” anak, akan mencetak pribadi yang murung, kurag ekspresif dan bahkan sulit mendapatkan teman. Hal ini tentunya, masuk akal jika mengingat anak-anak yang dibebani dengan tugas dan kegiatan yang menumpuk membuat mereka cenderung lebih sibuk dengan kegiatannya dan membuat mereka perlahan mengabaikan dunia sosialnya.

5. Kesehatan yang Terganggu

Jelas sudah, anak-anak yang diberikan banyak tugas seperti les, bimbingan belajar dan masih banyak kegiatan lainnya, membuat tenaga maupun pikiran anak terkuras. Lambat laun, energi anak akan berkurang dan tak lagi mampu untuk menghadapi kegiatan segudang yang diberikan oleh orangtua mereka.

Meskipun menginginkan yang terbaik untuk anak-anak, namun bukan berarti anda bisa mengabaikan dampak buruk dan sisi negatif yang bisa mereka hadapi dari pola pengasuhan yang seperti ini. Orangtua juga perlu mempertimbangkan hal ini demi kebaikan anak secara keseluruhan.

Menerapkan pola asuh yang terbaik adalah kunci dari keberhasilan orangtua dalam mendidik anak menjadi generasi bangsa yang lebih baik dan berkualitas. Untuk itu, mengenali dampak baik dan buruk yang mungkin ditimbulkan pada sebuah pola pengasuhan adalah modal awal untuk bisa menentukan pola pengasuhan seperti apa yang akan anda berikan pada buah hati tercinta.

 

 

 

Share This