Makanan Tinggi Garam yang Sering Dikonsumsi Anak

Toddler eating a large plate of French fries
01
Jun

 

Laporan yang dikeluarkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika Serikat, pada Maret 2017 lalu menunjukkan bahwa konsumsi garam orang Amerika ternyata mencapai dua kali lipat lebih banyak daripada seharusnya.

Tingginya asupan garam ini tidak berasal dari garam yang dibubuhkan langsung dari tempat garam, melainkan juga dari makanan yang disantap sehari-hari. Laporan yang dimuat di Morbidity and Mortality Weekly Report tersebut memaparkan jumah fantastis asupan garam orang Amerika dalam kesehariannya:

* Sebanyak 44% garam yang dikonsumsi berasal dari 10 jenis makanan, termasuk roti yang dibuat dengan ragi, pizza, roti lapis atau sandwich, daging iris yang dijual beku, sup, burito dan taco, snack asin, ayam, keju, serta telur dan telur dadar. Bukankah beberapa dari jenis makanan ini juga banyak dikonsumsi anak-anak kita?
* Sementara itu, 70% garam juga terdapat dalam 25 makanan yang disantap sehari-hari, seperti daging ham, saus salad, kentang goreng, dan sereal.
* Tidak hanya itu, 61% garam yang dikonsumsi juga berasal dari makanan siap saji yang biasa dibeli di toko makanan maupun yang disantap di restoran.
* Laporan CDC menyatakan, makanan yang paling banyak mengandung garam adalah yang dihidangkan di restoran.

Jika dilihat satu per satu, sebenarnya jumlah tambahan garam pada setiap jenis makanan tersebut tidaklah berlebihan. Namun, bayangkan jika berbagai makanan tersebut dikonsumsi sekaligus sepanjang hari. Tidak heran bila jumlah total garam yang masuk ke dalam tubuh dalam sehari pun bisa sangat tinggi, yaitu 3.400 mg dari jumlah 1.500mg/hari yang direkomendasikan American Heart Association (AHA).

Menurut AHA, sodium yang terkandung dalam garam adalah jenis mineral penting yang bisa membantu tubuh mempertahankan keseimbangan cairan. Namun, asupan garam yang terlalu tinggi bisa meningkatkan tekanan darah, sehingga risiko terhadap serangan jantung dan stroke pun meningkat.

Tingginya asupan garam tidak hanya berdampak buruk bagi kaum dewasa, melainkan juga bagi anak-anak. Untuk itu, ahli nutrisi klinis senior dari New York University Medical Center, New York, Samantha Heller mengajak para orangtua mengajarkan pola makan yang sehat pada anak.

“Ibu perlu memahami bahwa memberikan hotdog, kentang goreng, atau roti lapis berisi daging ham dan keju pada anak-anak bisa meningkatkan risiko terhadap berbagai penyakit, termasuk hipertensi, penyakit jantung, hingga kanker,” kata Heller.

Supaya Ibu dan seluruh keluarga, termasuk anak-anak, bisa terhindar dari konsumsi garam yang berlebihan, Zerleen Quader, peneliti sekaligus analis CDC merekomendasikan tiga hal berikut:

  1. Perhatikan label kemasan makanan saat berbelanja di pasar swalayan. Pilihlah jenis produk yang memiliki kandungan garam terendah.
  2. Ketika memasak di rumah, gunakan bahan segar dan bahan lainnya yang bisa menggantikan garam.
  3. Saat makan di luar, usahakan untuk meminta pada pihak restoran mengurangi pemberian garam pada makanan yang dipesan.

 

Share This