Meski Telah Bercerai, Marshanda dan Ben Kasyafani Tetap Kompak Mendidik Anak Supaya Tak Manja

maxresdefault
09
Oct

Pesinetron sekaligus ibu muda Marshanda kini sedang disibukkan dengan berbagai aktivitas, termasuk dalam mengurus anak perempuannya, Sienna.

Memang tak mudah bagi perempuan yang akrab disapa Chacha ini dalam menjalani peran ibu yang mengasuh dan membesarkan anak sekaligus peran ayah untuk mencari nafkah bagi si buah hati.

Namun, hal ini justru membuatnya semakin berusaha menjadi ibu terbaik bagi anak satu-satunya tersebut.

Hal ini ditunjukkan dengan cara belajar pola asuh untuk mendidik Sienna, anak dari pernikahannya terdahulu dengan pembawa acara Ben Kasyafani.

“Kalau pola asuh dari kecil aku banyak banget belajar. Dan zaman sekarang sudah banyak banget sarana untuk parenting,” tuturnya yang dilansir dari laman Kompas.

Dalam urusan pola asuh, Chacha fokus tak hanya membesarkan anak yang sehat secara fisik, namun juga mental.

“Aku belajar banyak teknik-teknik parenting yang membuat anak secara sehat secara mental, enggak hanya secara fisik dan gimana kita sebagai orangtua juga jauh yang namanya frustasi ngurus anak,” tambahnya.

 

Tetapi, tidak cukup sampai di situ, perempuan 28 tahun ini juga menyadari pentingnya bersikap tegas kepada putrinya yang genap 4 tahun tersebut.

Nge-balance-nya antara ketegasan dan cinta kepada anak yang butuh untuk diajarin gimana cara sopan kepada orangtua. Enggak semua yang dia mau harus diturutin,” tuturnya.

Tapi nyatanya, walau sudah berpisah Chacha dan Ben tetap kompak dan bertanggung jawab bersama-sama untuk membesarkan Sienna dengan berdiskusi perihal tumbuh kembang anak mereka.

“Kadang-kadang iya (diskusi). Kalau Sienna lagi jalan sama aku, Sienna nangis minta mainan, aku bingung dan segala macam lah. Terus kayak gitu menurut aku jangan terus dikasih. Karena dia mesti belajar ” ujarnya.

Sering kali anak menjadi manja karena pola asuh Ibu yang kurang tegas. Ada juga hal-hal kecil yang tanpa sadar membuat anak kurang mandiri.

Untuk itu, hindari tiga hal ini jika tak ingin anak berubah jadi manja:

 

1. Memberikan hadiah saat mencapai hasil yang baik. Tidak seperti anggapan orang pada umumnya, memberikan hadiah, seperti stiker, mainan, atau pujian, bukanlah cara yang baik untuk memotivasi anak. Memberi hadiah membuat anak jadi tergantung pada motivasi yang datang dari luar. Jadi, dia melakukan hal baik untuk mendapatkan sesuatu. Bukan karena menyukainya, tapi karena ingin dapat hadiah. Begitu hadiah tidak diberikan, motivasinya pun lenyap. Si Kecil pun enggan meneruskan perilaku baiknya.

Cara terbaik memberi motivasi anak adalah dengan membuatnya termotivasi dari dalam dirinya sendiri. Misalnya karena merasa senang saat melakukan sesuatu, atau saat menghadapi tantangan. Berfokuslah pada proses, bukannya hasil, saat memuji anak.

Jarang anak bisa melakukan suatu hal dengan benar hanya dalam satu kali mencoba. Jadi, kesanggupan untuk mencoba dan mencoba lagi itu penting. Nah, itulah yang perlu dapat pujian.

2. Menemani anak bermain 24 jam sehari. Menjadi orangtua yang bertanggung jawab bukan berarti menemani si Kecil 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Sehari-hari, si Kecil perlu belajar bermain mandiri dan ini adalah keterampilan yang penting untuk ia miliki.

Selain jadi lebih pintar mengatasi rasa bosan, ia pun bisa belajar banyak hal selama bermain sendiri tanpa diinterupsi oleh Ibu. Biarkan si Kecil tenggelam dalam permainannya sendiri, dan manfaatkan waktu tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan di rumah, beristirahat sejenak, atau menikmati secangkir minuman hangat untuk mengusir lelah.

 

3. Menyelesaikan semua masalah anak.  Kemampuan menyelesaikan masalah adalah kemampuan yang penting bagi anak. Supaya ia bisa menguasainya, Ibu perlu menahan diri untuk ikut campur dan memberinya kesempatan untuk mengatasi masalahnya sendiri.

Meski si Kecil sepertinya terlalu kecil untuk mengupas pisang, biarkan ia mencobanya. Bantulah dia beberapa menit kemudian hanya jika ia memintanya. Kalau tidak minta bantuan, biarkan saja. Saat ia berhasil melakukannya (meski pisang sudah hancur berantakan), ia telah menuntaskan satu keahlian baru. (*)

Share This