Sopan Santun Mengajak Balita Silaturahmi Lebaran

tips-mudik-lebaran-dengan-membawa-bayi-dan-balita-MgRTjqljmv
28
Jun

Hari raya Idulfitri sebentar lagi tiba. Salah satu tradisi yang tak pernah ketinggalan adalah acara saling berkunjung atau keluarga besar berkumpul bersama sama. Itulah yang disebut silaturahmi, dalam bahasa Arab berarti menyambung hubungan.

Sebetulnya, kita bisa bersilaturahmi dengan kerabat kapan saja. Namun, momen hari raya dianggap istimewa karena hari itu, selain berkumpul ada momen bermaaf-maafan.

Bagi anak-anak, momen Lebaran bisa digunakan untuk mengenal seluruh keluarga besar dan kerabat. Sebab, kerabat yang biasanya sibuk, di hari Lebaran itu mereka menyempatkan diri untuk datang. Jadi si anak punya kesempatan melihat semua om, tante, kakek-nenek, dan para sepupunya.   Ajang berkumpulnya keluarga besar satu tahun sekali ini juga membuat anak memiliki kesempatan belajar berbagai tradisi dan norma-norma sosial yang berlaku di keluarga besarnya, baik dari pihak ayah maupun ibu. Kemampuan melihat berbagai tradisi ini, akan membuat si kecil kelak mudah beradaptasi.

BERBAGAI MANFAAT SILATURAHMI

Jelas sudah disebutkan di awal, silaturahmi membuat balita bisa mengenal saudara-saudaranya, meskipun baru melihat dan belum melakukan interaksi. Dengan berkumpul bersama keluarga besar, anak juga akan belajar mengenai keterampilan berkomunikasi. Sebabnya, berada dalam ruangan yang terdapat beragam orang dengan berbagai usia memerlukan suatu latihan penyesuaian tersendiri. Sambil beradaptasi, anak juga akan belajar untuk bersosialisasi.

Secara khusus, bersilaturahmi di hari Lebaran juga menambahkan arti untuk saling memaafkan. Si anak juga melihat, bahwa sebagai manusia yang bersama-sama hidup di bumi, apalagi masih bersaudara, perlu adanya keterbukaan untuk saling bermaafan. Kelak, si prasekolah menjadi terbiasa dan sanggup untuk untuk memberi maaf dan meminta maaf karena dua hal ini merupakan hal penting dalam hubungan antarmanusia.

Biasanya saat berkumpul, keluarga yang datang juga membawa buah tangan dalam bentuk makanan. Kebiasaan ini dapat mengajarkan si prasekolah tentang kebersamaan dan gotong royong.

Di usia balita, orangtua sudah dapat mengenalkan silsilah keluarga dan hubungan kekerabatan. Orangtua juga bisa mengenalkan dengan cara memanggil mereka. Misalkan, anak harus memanggil tante atau bude untuk kakak perempuan ibunya.Misalnya, “Ini Bude Liliek, kakak Mama. Seperti kamu dengan Kakak di rumah, Mama sama Bude Liliek juga saling menyayangi.” Menjelaskan hubungan kekerabatan ini akan melanggengkan silaturahmi. Terutama mengingat masyarakat yang tinggal di kota-kota besar cenderung sibuk dengan urusan masing-masing hingga relatif jarang bertemu.

Ada baiknya orangtua tak sekadar menceritakan tentang siapa itu kakek-nenek, om-tante dan sebagainya, namun ceritakan pula pengalaman-pengalaman unik orangtua dengan masing-masing dari mereka. Dengan cara si prasekolah dapat mengidentifikasi nama dengan kepribadian keluarga itu sesuai dengan isi cerita. Cerita ini merupakan bekal anak sebelum bertemu dengan sosok keluarganya.

Lalu, saat anak-anak bertemu dengan kerabat,  orangtua harus berperan aktif untuk menjelaskan sosok yang dijumpainya. Di usia prasekolah, pola berpikir anak masih dalam tahap konkret sehingga perlu dilihatkan dengan sesuatu yang belum pernah dilihatnya. “Misalnya, ini lo Om Toni, adik Ayah yang Ayah ceritakan itu. Waduh, Ayah sama Om Toni ini waktu kecil senangnya naik-naik pohon di halaman depan, tuh di sana. Sampai dicariin Eyang Putri.” Positifnya, dengan penjelasan ini si prasekolah mendapat gambaran, bahwa ada oang-orang yang sangat berarti bagi orangtua. Masa kecil dan remaja orangtua dihabiskan dan diisi dengan berbagai macam hal dengan anggota keluarga tersebut. Ini untuk memperlihatkan, bahwa persaudaraan, meskipun terkadang berselisih pendapat, tapi yang dipentingkan adalah kekompakan.

Tidak dipungkiri, mengajak balita ke lingkungan baru membutuhkan “tantangan” tersendiri. Mama Papa kerap berpikir, “kerasan enggak ya, mereka di tempat keluarga berkumpul?” Memang sih, ada daya tarik yang mungkin bisa membuat si prasekolah betah. Misalnya, bertemu dengan sepupu-sepupunya yang seumuran. Tapi, membuat anak betah bukan cuma itu. orangtua perlu punya persiapan lain sehingga acara silaturahmi bagi si prasekolah dapat berjalan lancar dan nyaman. Apalagi kalau dia baru pertama kali melakukannya. Berikut tipnya;

– Beberapa hari sebelum bersilaturahmi,orangtua perlu memberi gambaran tentang silaturahmi dan tentang kerabat yang hendak dikunjungi. Misalkan, mengapa perlu berkumpul, siapa saja yang sekiranya akan datang, dimana alamatnya, bagaimana suasana rumahnya, dan lain-lain. Supaya si prasekolah semakin tertarik, ceritakan sesuatu yang khas yang berkaitan dengan keadaan rumah, pekarangan atau kebun serta identitas yang lain. Hal unik ini penting agar mudah diingat dengan baik dalam ingatan anak-anak.

– Pastikan anak sehat saat berangkat. Ini akan membuat mereka bergembira karena kondisi tubuhnya fit. Pun, dengan tubuh sehat, anak tak gampang rewel.

– Ada baiknya menentukan dimana saja tempat yang harus dikunjungi. Ingat, balita belum dapat diajak keliling dari satu rumah ke rumah lain. Apalagi non-stop dari pagi hingga sore. Anak akan kelelahan yang bisa berujung rewel. Lebih baik tentukan saja berkumpul di tempat keluarga besar yang sudah berkumpul. Memutuskan satu tempat untuk berkumpul juga mengurangi jarak tempuh. Kemacetan dan jauhnya jarak memengaruhi suasana hati anak.

– Siapkan tas berisi perlengkapan, terutama perlengkapan anak yang akan dibawa saat silaturahmi. Biasanya tas berisi handuk, baju ganti termasuk pakaian dalam, minuman dan camilan kesukaannya serta mainan favoritnya. Siapkan malam sebelumnya dan taruh di dalam mobil sehingga orangtua sudah tenang keesokan harinya saat akan berangkat. Grusa-grusu hanya akan membuat mood orangtua jadi rusak dan bisa berimbas pada anak. Setelah salat Idulfitri dan keluarga siap berangkat silaturahmi, pastikan si balita sudah dipakaikan baju yang nyaman dan menyerap keringat.  Selain itu, model pakaian juga jangan yang ribet hingga menghalangi geraknya.

– Hati-hati dengan baju baru, sebab baju baru seringkali mengundang ketidaknyamanan. Penyebabnya bisa dari bahan baju yang masih kaku. Untuk itu, kalaupun  berniat memakaikan baju baru, siapkan baju pengganti. Terutama saat anak mengeluh panas atau berkeringat.

– Tak ada salahnya membuat kesepakatan bersama. Umpama, mengucap salam ketika bertamu, melepas alas kaki jika itu merupakan kebiasaan tuan rumah, duduk dengan baik ketika dipersilakan oleh tuan rumah, menjawab pertanyaan ketika ditanya, tidak menyentuh/mengambil barang yang bukan miliknya, mencicipi makanan dan minuman yang disediakan tapi tidak menunjukkan sikap rakus/berlebihan, serta berpamitan ketika akan pulang. Selain itu, selama di rumah yang dikunjungi tidak boleh menangis/rewel. Kalau mau pipis harus bilang, dan sebagainya. Meski demikian, sebaiknya kesepakatan ini tidak lantas membuat si balita jadi takut, dan malah menyurutkan semangatnya ikut bersilaturahmi.  Nah, selamat bersilaturahmi menemui keluarga besar di hari raya Idulfitri. (*)

sumber: nakita

Share This