Virus Zika Bangkit Mendunia, Waspada Ibu Hamil dan Anak-anak Rentan Terinfeksi

ZIK
10
Apr

 

Baru-baru ini, akhir Januari 2016, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) PBB, menyatakan darurat internasional virus zika. Virus yang diinfeksikan oleh nyamuk Aedes ini minggu lalu menyebar cepat di Amerika.

Negara-negara lain dikhawatirkan terjangkit epidemi serupa. Karena sebenarnya Zika adalah virus yang sudah ada sejak lama. Pertama, WHO merilis sedikitnya dua faktor berkembangnya Virus Zika di kawasan-kawasan negara lain. Epidemi Virus Zika dalam konteks global merupakan hal baru. Sebab itu imunitas seluruh penduduk Amerika ataupun lainnya masih tentang dan kurang pertahanan terhadap virus Zika. Kedua, nyamuk Aedes tersebar luas di semua negara atau daerah, mengingat kondisi iklim, suhu, dan kelembaban di negara-negara tropis. Sekarang ini, perubahan iklim memberikan kekhawatiran semakin berkembangnya nyamuk Aedes.

Asal-Usul Virus Zika

Virus Zika pertama kali diidentifikasi di Uganda pada tahun 1947. Meski diisolasi di Hutan Zika, Uganda, virus itu tetap menjadi wabah kecil di sebagian kawasan Afrika, dan juga sporadis di Asia. Pada tahun 2007 dilaporkan epidemi Zika dalam skala besar di Pulau Yap (Mikronesia).

Pada Maret 2014, PAHO/WHO memberitakan bahwa mereka menemukan kasus penularan virus Zika di Pulau Paskah, Chili. Berlanjut kabar pada 2015 penularan virus Zika di Brasil juga dikonfirmasikan oleh otoritas kesehatan setempat. Sejak Oktober 2015, negara-negara di wilayah Amerika melaporkan virus Zika terus bekerja di kawasannya.

Infeksi Virus Zika dan Gejalanya

Infeksi virus Zika disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi. Infeksi ini biasanya menyebabkan demam ringan, ruam atau bercak, konjungtivitis atau peradangan selaput mata, dan nyeri otot. Gejala-gejala itu tampak secara umum pada 2-7 hari pasca gigitan nyamuk yang terinveksi.

WHO melaporkan, satu dari empat orang yang terinfeksi Virus Zika mengalami gejala penyakit. Di antara mereka yang terinfeksi, biasanya berdampak ringan dan dapat bertahan 2-7 hari. Namun dalam beberapa kasus infeksi Zika berpotensi fatal. Sejauh ini simpulan medis mengarah bahwa efek terparah dari Virus Zika akan berdampak pada komplikasi neurologis dan autoimun.

Penularan Virus Zika

Gejala Virus Zika mirip dengan demam berdarah (dengue) atau chikungunya. Bedanya, chikungunya menyebabkan demam tinggi dan nyeri sendi lebih intens sehingga mempengaruhi tangan, kaki, lutut, dan punggung yang menyebabkan daya gerak tubuh berkurang signifikan.  Penularannya pun dilakukan oleh nyamuk jenis yang sama, Aedes. Walhasil Virus Zika ditularkan kepada satu manusia ke manusia lainnya melalui gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi.

Penularan dengan cara lain, meski kasus ini tergolong jarang, di antaranya adalah melalui hubungan badan. Selain itu Virus Zika bisa ditularkan oleh seorang ibu kepada janinnya, dan itu bisa menyebabkan mikrosefali pada bayi. Mirosefali adalah kondisi lingkar kepala bayi lebih kecil dari umumnya. Mikrosefali akan menyebabkan pertumbuhan otak yang tidak normal.

Pengobatan dan Pencegahan

Sebagaimana demam berdarah, tes darah dapat membantu untuk mengkonfirmasi diagnosis awal Virus Zika.

Sejauh ini belum ada vaksin atau obat khusus dari Virus Zika. Pengobatan terdiri dari menghilangkan rasa sakit, demam, dan gejala lain yang membuat pasien tidak nyaman. Treatment lainnya adalah mencegah dehidrasi, mengontrol demam, beristirahat yang banyak, dan minum banyak air.

Pencegahan infeksi Virus Zika yang disarankan masih terpaku pada pola konvensional seperti pencegahan demam berdarah. Yaitu mengurangi populasi nyamuk dan menghindari gigitan, khususnya gigitan pada siang hari. Sebagaimana demam berdarah, menghilangkan dan mengendalikan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes sama halnya mengurangi potensi transmisi Virus Zika.

Di Indonesia, kita memiliki gerakan pencegahan demam berdarah dengan 3 M: menguras, menutup, dan mengubur. Kebiasaan 3 M tersebut relevan untuk digiatkan dalam rangka meminimalkan perkembangbiakan virus zika di lingkungan.

Ibu Hamil dan Anak-anak Rentan Virus Zika

Harian Kompas (27/01) melaporkan, pada kasus terbesar Virus Zika di Brasil, yang mana lebih dari 16.490 orang terjangkit, 1.090 di antaranya adalah perempuan hamil. Kekhawatiran terbesar jika Virus Zika yang menjangkit si ibu kemudian menular ke bayi bisa menyebabkan mikrosefalus.

Di luar data statistik tersebut, pengalaman demam berdarah baik di skala lokal maupun internasional juga relevan dijadikan pelajaran bagaimana mewaspadai epidemi Virus Zika. Anak-anak merupakan kelompok usia yang paling rentan dengan gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi di siang hari. Maka masuk akal untuk memberikan kewaspadaan terhadap anak yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

Untuk mengurangi risiko tergigit nyamuk Aedes terinfeksi, cara-cara konvensional tetap bermanfaat. Di antaranya memakaikan pakaian kemeja lengan panjang dan celana panjang pada anak-anak, mengoles kulit mereka dengan lotion antinyamuk, dan tidur di dalam kelambu. (diolah dari sumber terpercaya, WHO Internasional [www.who.int])

Share This